Monday, January 23, 2012

Hati dan Pisau Babi

Di Dunia ini, aku cuma punya dua hal ; Hati, dan Pisau Babi.


Aku meninggalkan kontrakan petakan pengap bau pesing yang beberapa tahun ini menjadi selimut hangat malam-malam dinginku. Menguncinya rapat-rapat, dan mengucap selamat tinggal, karna aku tau, setelah malam ini, aku tidak akan pulang ke tempat ini lagi. Tempat yang merekam hampir semua kebahagiaanku selama 2 tahun aku hidup dengan hati.

Aku memang ingin tampil lebih cantik malam ini. Lebih cantik dari malam-malam sebelumnya.
Tampil cantik sebagai persembahan terakhirku, untukmu.
Heels murahan 17cm ku memecah malam. Gelang-gelang emas sepuhan bergemericik. Mini dress chiffon ku menonjolkan lekuk tubuhku. Sukses membuat semua pria pria hidung belang bajingan dengan tampang mesumnya tak bisa mengalihkan pandangannya dariku. Aku tersenyum sinis.
Bangsat, semua pria memang sama saja. Gumamku dalam hati.

---------------------------------------------

Aku menekan bell apartemennya.
Dia keluar. Lelakiku. Hanya berbalut handuk seadanya. Tercium wangi sabun khas dirinya yang sangat aku suka. Aku tersenyum melihatnya. Dia, dia yang membiarkan aku merasakan lagi getaran-getaran dalam hati selama 2 tahun ini.
"Hy, gorgeous!" Sapanya. Dia tersenyum. "Wow, you look pretty, tonight!"
"Hy, sweetheart. Thankyou.. I miss you....." Aku masuk ke dalam apartemennya. Menariknya mendekat, mengunci pintu rapat-rapat.
Aku memeluknya erat, merasakan degup jantungnya, dan kulit hangatnya yang tak terbalut pakaian.
Tak bisa berhenti mengagumi ketampanan pria ini. Badannya yang sekeras batu, pelukannya yang beberapa waktu lalu selalu berhasil melumpuhkan syaraf-syarafku.
Aku mencium bibirnya. Dia membalas ciumanku. Nafas yang menderu.

"Lumatan bibir hangatmu tak mampu lagi menggetarkan lubuk hatiku..." aku bergumam pelan diantara ciuman kami.
"Ha? Apa sayang? Aku gak dengar?" tanyanya heran.
Aku tak menjawabnya, mengunci bibirnya lagi dengan hujaman ciumanku.

"Kebohongan mu, adalah asap rokok, yang tak dapat tersamarkan, baunya..." aku kembali bergumam pelan
"Shut up babe, i can't hear you" protesnya.
dia masih menciumku, nafsu.

Perlahan aku membuka tasku. Mengeluarkan pisau hitam tajam berbalut kulit babi. Aku tersenyum. Mata pisaunya aku goreskan ke kulit punggungnya. Dalam.
"AAAAW!!! Sakit!!! What was that???" dia menjerit. Darah mulai menetes dari punggungnya.
Aku tersenyum "Dont be a cry baby, honey."
Aku mendekat. Mengayun ayunkan pisauku. Dia menjauh
"What are you doing???!!" Buang pisaunya!!" Dia mulai panik
Aku sedikit berlari kearahnya.
Tanpa babibu, aku menusukkan pisauku tepat di jantungnya. Memutar mutar mata pisauku. Mengoyak ngoyak organ dalam tubuhnya. Merobek robek kulitnya. Membuat tusukanku makin dalam. Melebarkan luka menganga-nya. Bau amis tercium. Darah muncrat kemana mana. Aku menyat nyayat kulitnya. Memngeluarkan semua ginjal, hati dari dalam tubuhnya. Aku tusuk tusuk lagi ginjal dan hatinya.

"Terimakasih sayang, buat dua tahun berharga ini. Kau bisa menghidupkan lagi hatiku. Tapi dasar kau sama saja bajingan. Keparat. Omong kosong. Kamu mencintaiku tulus? Wanita miskin seperti aku? Tai. Kamu sama saja dengan pria lainnya. Kamu mencintai aku apa adanya? Di Dunia ini, aku cuma ada hati dan pisau babi. Aku tawarkan kamu hatiku, kamu malah minta pisau babiku. Rasakanlah. Bahkan koyakan jantungmu tak mampu menyaingi sakit hatiku. Terimakasih atas pengkhianatanmu. Terimakasih, ternyata kau tidak hanya dapat menghidupkan kembali hatiku, tapi juga menghidupkan kembali pisauku."

Aku menyirami tubuhnya dengan minyak tanah. Membakarnya.




-----------------------------------

Kembali lagi aku disini, ruangan kecil pengap penuh pendosa ini. Penjara ini. Seperti 2 tahun yang lalu. Memegang erat pisauku. Menyembunyikannya.



0 comments:

Post a Comment