Wednesday, January 18, 2012

Teman Minum Kopi


Untukku, minum kopi itu sama seperti kita sedang mengagumi seseorang.
Diam diam menikmati, lama lama...... menjadi candu.
Kalau terlalu banyak..... kopi bisa jadi penyakit untuk tubuhmu.
Kalau dinikamti sewajarnya, semuanya akan baik baik saja.
Sekarang aku terlanjur suka kopi. Aku terlanjur kecanduan kopi.


Kopi akan selalu mengingatkan aku pada dirimu.
Dari secangkir kopi, mata kita bertemu.
Dari secangkir kopi, aku, jatuh cinta kepadamu.

Aku tidak ingat saat pertama kali kita bertemu.
Tapi aku ingat saat pertama kali aku menyadari keberadaanmu. Di kedai kopi dengan kawan kawan waktu itu. Kamu dengan kaos hitam pekatmu. Saat itu, yang ada dikepalaku adalah, apa yang menarik dari dirimu?
Sampai berbulan bulan pun dulu aku sulit untuk menghafal nama mu. Bahkan nama panggilanmu.
Lalu, entah sejak kapan perasaan itu muncul. Entah sejak kapan, kau mulai begitu melekat di ingatanku.
Aku diam diam mulai menikmati kehadiranmu. Menikmati saat saat kau berbicara padaku, menikmati semua tingkah lakumu. Aku menikmati tatapan matamu, aku menikmati hela nafasmu, aku menikmati semua bagian dari dirimu.
Aku menikmati genggaman tangan dinginmu. Aku senang kau berbagi lelahmu kepadaku. Aku terpesona dengan bagaimana kau menyebut namaku. Aku menikmati semua ceritamu. Aku menikmati semua kebersamaan ku denganmu.

Waktuku terasa berlalu terlalu cepat saat aku bersama denganmu. Saat-saat kebersamaan kita. Saat kita pergi mengunjungi kedai kopi satu ke kedai kopi lainnya. Menikmati bercangkir cangkir kopi, dari matahari sedang berada di atas kepala, sampai senja. Aku selalu suka dengan senyummu saat kau menemukan kopi terbaikmu. Brewed Coffee kesukaanmu. Wajahmu, yang menikmatinya dengan perlahan-lahan, senyum sunggingmu saat menikmati aromannya, dan bunyi seruput yang selalu muncul saat kau minum kopi. Kelakuanmu saat minum kopi, tak pernah gagal membuatku tersenyum sampai cangkir lainnya tersuguhkan. Untukku, bukan Brewed Coffee yang aku nikmati, bukan Espresso yang terbaik. Untukku, Kopi, dan kamu adalah bagian terbaik dari hari hariku minum kopi bersamamu.

Aku mengamati hujan dari dari dalam kedai kopi tempat kita biasa bertemu. Menunggumu datang, sambil menari nari dengan ingatanku yang juga tentang dirimu. Aku benar benar telah candu akan dirimu. Semua ruang dalam fikiranku sudah sesak oleh ingatan tentang mu. Aku bisa menggeser makna air putih dengan kopi, karnamu. Ah, beginikah rasanya jatuh cinta? Yang pait bisa menjadi manis, yang sehat bisa jadi menyakitkan, yang sederhana bisa menjadi luar biasa, bahkan hujan diluar terlihat seperti bunga turun berjatuhan, bukan air yang siap membasahi dan mengotori baju terbaikmu. Aku tak dapat menyembunyikan senyum bahagiaku.

“Minna.........” Suaranya memecah lamunanku.
Aku terkejut seperkian detik. Dia datang. Rambutnya sedikit basah terkena hujan. Mengenakan kaos hitam pekat yang aku ingat sama seperti yang dia kenakan saat pertama kali aku menyadari keberadaanya. “Noudi!” aku akirnya menyapanya.
“Sudah lama? Maaf ya aku telat. Hujannya deras banget. Terus tadi di Kantor juga ada kerjaan tambahan.. sebagai permintaan maafku, hari ini aku traktir semua kopimu! hehehe” Dia terkikih. Senyumnya lebar.
Dia mulai membolak balikan menu, senyumnya belum lepas dari mulutnya.
“Hari ini kamu lagi seneng banget keliatannya? Ada apa sih? Hehe” Aku menggodanya penasaran. Berharap dia menjawabnya dengan jawaban karna hari ini, jadwal kita bertemu, atau karna akhirnya hari ini kita bertemu. Kata kata seperti itu. Aku tak bisa menahan senyuman karna lamunan bodohku.
“Kamu juga kelihatan senang sekali hari ini, dari tadi senyam senyum terus. Tadi aku dateng juga, kamu lagi senyam senyum sendiri.. kenapa hayoooo...” Noudi balas menggodaku. Kami tertawa bersama, bersenda gurau sambil menikmati kopi masing masing.. bercerita tentang apa saja, menertawakan apa saja. Aku, tidak bisa lebih bahagia dari ini.
Sampai akirnya senyumnya berhenti dan dia terlihat serius.
“Minna, aku mau mengatakan sesuatu.” Air mukanya sudah berubah menjadi lebih serius
“Apa?” jawabku singkat. Jantungku berdebar.
“Ehm..... aku.... sepertinya.... menyukai.......Sophie... Temanku di kantor. Kamu pernah bertemu sekali dengannya, waktu aku ajak kamu ke kantor waktu itu. Yang kamu bilang dia mirip kelinci. Lucu kan? Bagaimana pendapatmu?” Noudi tersipu. Mukanya memerah. Matanya terlihat sangat berbinar binar. Senyumnya lebih lebar dari hari hari sebelumnya.

Jantungku berhenti berdetak. Tengkuk ku terasa panas. Mukaku merah. Darahku naik sampai ubun ubun. Sesak nafas. Tulang punggungku seperti tak bisa lagi menopangku untuk duduk tegak. Tremor muncul tiba-tiba. Mataku mulai panas. Lemas. Hancur.

Dia.................. kopiku, kopi yang ada di fikiranku.
Aku............... bukan kopinya, aku, ternyata, hanya teman minum kopi.

Rusak sudah... aku...
(Lirik Berhenti Di Kamu - Anji)

0 comments:

Post a Comment