Untukku, minum kopi itu sama seperti kita sedang
mengagumi seseorang.
Diam diam menikmati, lama lama...... menjadi
candu.
Kalau terlalu banyak..... kopi bisa jadi penyakit
untuk tubuhmu.
Kalau dinikamti sewajarnya, semuanya akan baik baik saja.
Sekarang aku terlanjur suka kopi. Aku terlanjur kecanduan kopi.
Kopi akan selalu
mengingatkan aku pada dirimu.
Dari secangkir
kopi, mata kita bertemu.
Dari secangkir
kopi, aku, jatuh cinta kepadamu.
Aku tidak ingat
saat pertama kali kita bertemu.
Tapi aku ingat
saat pertama kali aku menyadari keberadaanmu. Di kedai kopi dengan kawan kawan waktu itu. Kamu dengan kaos hitam pekatmu.
Saat itu, yang ada dikepalaku adalah, apa yang menarik dari dirimu?
Sampai berbulan
bulan pun dulu aku sulit untuk menghafal nama mu. Bahkan nama panggilanmu.
Lalu, entah sejak
kapan perasaan itu muncul. Entah sejak kapan, kau mulai begitu melekat di
ingatanku.
Aku diam diam
mulai menikmati kehadiranmu. Menikmati saat saat kau berbicara padaku,
menikmati semua tingkah lakumu. Aku menikmati tatapan matamu, aku menikmati
hela nafasmu, aku menikmati semua bagian dari dirimu.
Aku menikmati
genggaman tangan dinginmu. Aku senang kau berbagi lelahmu kepadaku. Aku
terpesona dengan bagaimana kau menyebut namaku. Aku menikmati semua ceritamu.
Aku menikmati semua kebersamaan ku denganmu.
Waktuku terasa berlalu
terlalu cepat saat aku bersama denganmu. Saat-saat kebersamaan kita. Saat kita
pergi mengunjungi kedai kopi satu ke kedai kopi lainnya. Menikmati bercangkir
cangkir kopi, dari matahari sedang berada di atas kepala, sampai senja. Aku
selalu suka dengan senyummu saat kau menemukan kopi terbaikmu. Brewed Coffee
kesukaanmu. Wajahmu, yang menikmatinya dengan perlahan-lahan, senyum sunggingmu
saat menikmati aromannya, dan bunyi seruput yang selalu muncul saat kau minum
kopi. Kelakuanmu saat minum kopi, tak pernah gagal membuatku tersenyum sampai
cangkir lainnya tersuguhkan. Untukku, bukan Brewed Coffee yang aku nikmati, bukan
Espresso yang terbaik. Untukku, Kopi, dan kamu adalah bagian terbaik dari hari
hariku minum kopi bersamamu.
Aku mengamati
hujan dari dari dalam kedai kopi tempat kita biasa bertemu. Menunggumu datang,
sambil menari nari dengan ingatanku yang juga tentang dirimu. Aku benar benar
telah candu akan dirimu. Semua ruang dalam fikiranku sudah sesak oleh ingatan
tentang mu. Aku bisa menggeser makna air putih dengan kopi, karnamu. Ah,
beginikah rasanya jatuh cinta? Yang pait bisa menjadi manis, yang sehat bisa
jadi menyakitkan, yang sederhana bisa menjadi luar biasa, bahkan hujan diluar
terlihat seperti bunga turun berjatuhan, bukan air yang siap membasahi dan
mengotori baju terbaikmu. Aku tak dapat menyembunyikan senyum bahagiaku.
“Minna.........”
Suaranya memecah lamunanku.
Aku terkejut
seperkian detik. Dia datang. Rambutnya sedikit basah terkena hujan. Mengenakan kaos
hitam pekat yang aku ingat sama seperti yang dia kenakan saat pertama kali aku menyadari keberadaanya. “Noudi!” aku akirnya menyapanya.
“Sudah lama? Maaf
ya aku telat. Hujannya deras banget. Terus tadi di Kantor juga ada kerjaan
tambahan.. sebagai permintaan maafku, hari ini aku traktir semua kopimu! hehehe”
Dia terkikih. Senyumnya lebar.
Dia mulai
membolak balikan menu, senyumnya belum lepas dari mulutnya.
“Hari ini kamu
lagi seneng banget keliatannya? Ada apa sih? Hehe” Aku menggodanya penasaran.
Berharap dia menjawabnya dengan jawaban karna hari ini, jadwal kita bertemu,
atau karna akhirnya hari ini kita bertemu. Kata kata seperti itu. Aku tak bisa
menahan senyuman karna lamunan bodohku.
“Kamu juga
kelihatan senang sekali hari ini, dari tadi senyam senyum terus. Tadi aku
dateng juga, kamu lagi senyam senyum sendiri.. kenapa hayoooo...” Noudi balas
menggodaku. Kami tertawa bersama, bersenda gurau sambil menikmati kopi masing
masing.. bercerita tentang apa saja, menertawakan apa saja. Aku, tidak bisa
lebih bahagia dari ini.
Sampai akirnya
senyumnya berhenti dan dia terlihat serius.
“Minna, aku mau
mengatakan sesuatu.” Air mukanya sudah berubah menjadi lebih serius
“Apa?” jawabku
singkat. Jantungku berdebar.
“Ehm..... aku....
sepertinya.... menyukai.......Sophie... Temanku di kantor. Kamu pernah bertemu
sekali dengannya, waktu aku ajak kamu ke kantor waktu itu. Yang kamu bilang dia
mirip kelinci. Lucu kan? Bagaimana pendapatmu?” Noudi tersipu. Mukanya memerah.
Matanya terlihat sangat berbinar binar. Senyumnya lebih lebar dari hari hari
sebelumnya.
Jantungku
berhenti berdetak. Tengkuk ku terasa panas. Mukaku merah. Darahku naik sampai
ubun ubun. Sesak nafas. Tulang punggungku seperti tak bisa lagi menopangku
untuk duduk tegak. Tremor muncul tiba-tiba. Mataku mulai panas. Lemas. Hancur.
Dia..................
kopiku, kopi yang ada di fikiranku.
Aku...............
bukan kopinya, aku, ternyata, hanya teman minum kopi.
Rusak sudah... aku...
(Lirik Berhenti Di Kamu - Anji)
0 comments:
Post a Comment